Risiko Mata Uang Digital Bank Sentral (CBDC)
Risiko CBDC: Ancaman Terhadap Privasi dan Kebebasan Finansial di Indonesia
Central Bank Digital Currency (CBDC) atau Mata Uang Digital Bank Sentral adalah bentuk uang digital resmi yang diterbitkan oleh bank sentral. Di Indonesia, Bank Indonesia tengah mengembangkan Rupiah Digital melalui Proyek Garuda sebagai upaya digitalisasi sistem keuangan nasional.
Namun, di balik potensi efisiensi yang ditawarkan, para ahli memperingatkan adanya risiko serius terhadap privasi dan kebebasan finansial masyarakat.
Risiko Utama CBDC: Pengawasan dan Kontrol Penuh oleh Pemerintah
1. Hilangnya Privasi Finansial
CBDC memungkinkan seluruh transaksi keuangan masyarakat dipantau secara real-time oleh bank sentral. Berbeda dengan uang tunai yang menjamin anonimitas, setiap transaksi Rupiah Digital terekam dalam sistem pemerintah.
Prof. Richard Werner, pakar ekonomi dan penulis Princes of the Yen mengatakan:
"CBDC akan memungkinkan pemerintah memiliki kekuatan tanpa preseden untuk memonitor, mengontrol, bahkan menghentikan transaksi setiap individu."
2. Potensi Pemblokiran dan Pembekuan Dana
Dengan sistem terpusat, pemerintah bisa memblokir atau menyita saldo digital kapan saja tanpa melalui proses pengadilan.
Edward Snowden, pakar privasi global, memperingatkan:
"CBDC adalah ancaman besar bagi kebebasan finansial. Ini akan menjadi alat pemerintah untuk mengontrol perilaku warga melalui dompet digital."
3. Suku Bunga Negatif dan Uang Kadaluarsa
CBDC memungkinkan penerapan suku bunga negatif atau pemrograman uang, di mana saldo bisa berkurang jika tidak digunakan dalam waktu tertentu sesuai kebijakan pemerintah.
Dr. Norbert Michel dari Cato Institute menyatakan:
"CBDC bisa menjadi alat negara untuk memaksa masyarakat membelanjakan uangnya. Konsep uang kadaluarsa ini sangat berbahaya bagi kebebasan individu."
Dampak Terhadap Perbankan dan Industri Kripto di Indonesia
CBDC juga berpotensi menggerus simpanan di bank karena masyarakat lebih memilih menyimpan uang langsung di dompet digital milik Bank Indonesia. Hal ini bisa mengganggu likuiditas perbankan dan memperlemah sistem kredit nasional.
Dari sisi kripto, Dr. Darryn Pollock, analis industri blockchain, menjelaskan:
"CBDC akan menjadi alat negara untuk menekan adopsi cryptocurrency, karena aset digital dianggap mengancam dominasi mata uang fiat."
Ancaman Terhadap Kebebasan Finansial dan Demokrasi
Jika semua transaksi berada dalam kontrol pemerintah, kebebasan ekonomi masyarakat terancam. Negara berpotensi menyalahgunakan kekuasaan untuk membatasi gerak kelompok tertentu.
Yaya Wulandari, peneliti ekonomi digital Indonesia, dalam sebuah webinar menyebutkan:
"Rupiah Digital bisa berbalik menjadi senjata jika tidak diatur ketat. Privasi warga dan kebebasan bertransaksi harus dijamin sebelum diterapkan."
Kesimpulan: Bijak Menyikapi Proyek Garuda dan Risiko CBDC
Meski Proyek Garuda menjanjikan efisiensi dan inklusi keuangan, risiko terbesar CBDC adalah potensi negara mengontrol penuh aktivitas keuangan rakyat.
Rekomendasi:
- Edukasi masyarakat tentang risiko CBDC
- Dorong transparansi dan partisipasi publik dalam Proyek Garuda
- Jaga keberadaan uang tunai sebagai alat transaksi sah
- Pastikan regulasi Rupiah Digital menjamin privasi dan kebebasan finansial
"Jika uang kita bisa diblokir dan diprogram sesuai kehendak pemerintah, maka sesungguhnya kita tidak lagi memiliki uang itu."
Posting Komentar untuk "Risiko Mata Uang Digital Bank Sentral (CBDC)"